SEJARAH
Jejak Kisah Leluhur Pulau Adonara
Sejarah Adonara
Adonara adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara tepatnya di Ujung Timur Pulau Flores. Secara administratif, Pulau Adonara tergabung dalam administrasi pemerintahan Kabupaten Flores Timur yang terdiri dari 8 kecamatan dengan luas wilayah geografis sekitar 509 km. Pulau ini dibatasi oleh laut Flores di sebelah Utara, selat Solor di sebelah Selatan (memisahkan dengan pulau Solor), selat Lewotobi di Barat (memisahkan dengan pulau Flores) serta di sebelah Timur berbatasan dengan selat Boleng (memisahkan dengan Pulau Lembata).
Masyarakat Adonara yang mendiami Pulau Adonara merupakan bagian dari etnis Lamaholot yang memilki kisah historis yang Panjang dan warisan budaya yang syarat akan makna. Secara etimologis, nama Adonara berasal dari dua suku kata yang memiliki dua pengertian. Adonara berasal dari 2 suku kata yaitu Ado dan Nara. Kata Ado mengingatkan orang Adonara akan pria pertama yang hidup di Pulau Adonara, yakni Kelake Ado Pehan. Sedangkan Nara artinya kampung, bangsa, kaum kerabat, sahabat atau teman. Jadi Adonara berarti Ado punya kampung, Ado punya Suku bangsa, Ado punya keturunan dan kaum kerabat.
Singkat kisah, Kelake Ado Pehan kemudian bertemu dengan Kewae Sode Boleng (wanita pertama yang hidup di Adonara), di Puncak Ile Boleng (Gunung di Adonara). Dari pertemuan ini, akhirnya mengantarkan mereka ke jenjang pernikahan. Pernikahan kedua manusia pertama di Pulau Adonara ini, kemudian melahirkan tujuh Putra yakni ; Laba Ipe Jarang (keturuanannya di Boleng), Mado Paling Tale (Keturunanya di Doken), Beda Geri Niha (keturunannya di Nihaone), Duli Ledan Labi (keturunannya di Lewoduli), Kia Kara Bau (keturunanya di Wokablolon, Kiwangona), Kia Lali Tokan (keturunanya di Lewobelek), Sue Buku Taran (keturunannya di Lewojawa, Lamahala).
Keturunan Kelake Adopehan dan Kewae Sode Bolen ini menyebut dirinya dengan Ata Ile Jadi atau keturunan dari gunung, yang kemudian menyebar dan mendiami pulau Adonara sampai saat ini.
Masyarakat Adonara terbagi dalam dua kubu yaitu Paji dan Demon. Kubu adat dan wilayah Paji meliputi wilayah pesisir seperti Kerajaan Adonara di Sagu, Terong, Lamahala, Kelubagolit dan Witihama. Sedangkan Kubu Paji cakupanya di wilayah Pegunungan. Dari kedua kubu ini menandakan bahwa perbedaan dalam kehidupan masyarakat Adonara sangat beragam. Tetapi dari perbedaan ini, masyarakat Adonara mengedepankan semangat persaudaraan dan kekeluargaan dengan sebutan Tite Ata Kakan No’on Arin (kita adalah saudara)
Sejarah Perang Hongi 1904
Perang Hongi 1904 yang terjadi di Pulau Adonara, merupakan salah satu perang besar yang terjadi selama beberapa bulan sejak pertengahan tahun 1903 hingga menjelang pertengahan tahun 1904. Perang ini melibatkan dua wilayah hukum adat di Kecamatan Kelubagolit, Kabupaten Flores Timur, NTT yaitu wilayah Hinga dan wilayah Lamabunga. Awal mula penyebab terjadinya perang Hongi Hinga berawal dari perselisihan dua bersaudara yaitu Paron Kian (adik) dan Paron Bubun (kakak ) di Desa Pepakgeka, wilayah Lamabunga. Perselisihan dua bersaudara ini karena konflik perebutan hak atas kepemilikan tanah.
Perang ini meluas, setelah dua kakak beradik ini, mencari nara atau bala bantuan. Paron Bubun (kakak ), meminta bantuan pemangku adat Wilayah Lambunga, atas nama Sabon Belen dari klan Riantoby. Sedangkan, Paron Kian ke pemangku adat wilayah Hinga,atas Nama Luli Hada dan Nama sabon dari suku Lamatokan Seran Goran Hinga.
Perang Hongi Hinga tidak hanya disebabkan dari perselisihan saudara akan tetapi berkaitan dengan pajak. Di mana Luli Hada memiliki wibawa karena dia terang-terangan menunjukan sikap yang berseberangan dengan Raja Adonara. Karena sudah beberapa lama melarang warganya untuk tidak membayar pajak kepada Raja karena dinilai pajak yang diterapkan terlalu tinggi dan membuat masyarakat sengsara.
Perang Hongi-Hinga melibatkan kerajaan Adonara pada masa pemerintahan Raja Arakian Kamba ini berlangsung cukup lama yakni dari tahun 1903-1904. Ketika di medan perang, Pasukan Raja Arakian Kamba dan Sabon Bele berhasil dipukul mundur oleh pasukan Hinga yang di bawah pimpinan Luli Hada dan Nama Sabon.
Sang Baginda Raja merasa malu karena kekalahan ini, sehingga mendatangkan bala bantuan dari Kedang Kewela dan Lewotolok Lembata, namun tidak mampu membendung tekanan pasukan perang Hinga. Menyadari akan kekuatan pasukan perang Hinga ini, Raja Arkiang Kamba meminta bantuan pasukan Timo Meo dari Belu Timor. Namun demikian, pasukan Timo Meo pun tidak berhasil memukul mundur pasukan perang Hinga. Akhirnya, Arkiang Kamba demi harga dirinya sebagai raja Adonara meminta bantuan pemerintah Belanda. Dan melalui kekuatan Angkatan Laut Belanda yang bertugas mengawal perdagangan rempah-rempah di Maluku, mengirim pasukannya (Pasukan Hongi) untuk menyerang Hinga.
Pada Tanggal 03 Agustus 1904 terjadi pertempuran besar dan berdarah -darah. Pada perang ini pasukan Hinga di pukul mundur hingga ke Desa Muda. Ketika di Medan perang ( di Desa Muda), pasukan perang Hinga berhasil menembak mati komandan pasukan mariner Belanda, Letnan Luitje Van Den Borg yang jenasahnya di kebumikan di Ibu kota Kerajaan Adonara di Sagu.
Akhir dari perang ini, pasukan Hinga di pukul mundur sampai ke puncak gunung Ile Boleng. Dengan demikian, pasukan Hinga diusir untuk tidak menetap di Kampung halamanya untuk sementara waktu.
Setelah membayar biaya perang (panpasan) berupa upeti 48 batang gading dengan uang perak sebanyak 5 lepo (anyaman yang terbuat dari daun lontar).
Dengan demikian perjanjian bahwa setelah upeti ini di bayar, masyarakat Hinga dapat Kembali ke tanah asalnya dan menguasai Kembali hak-hak miliknya seperti semula.
Akhir dari perang ini, para pejuang Lewo Hinga banyak yang gugur di medan juang,dan Sebagian yang hidup di tangkap(di tawan) untuk di kirim sebagai orang-orang hukuman (tahanan). Para Pejuang Yang dikirim ke tanah jawa antara lain ;
Nama Sabon ( Panglima perang dan pemangku adat Desa Hinga )
Bebe Kewa ( Hinga )
Sabon Doko ( Lamapaha )
Lewotobi ( Redontena )
Angin Pehan ( Nisakarang )
Kopong Lusi ( Muda )
Kopong Blolo ( Keluwain )
Kopong Rere ( Keluwain )
Kopong Narek ( Pepakgeka )
Para pejuang lewo tanah ini ada yang meninggal di tanah hukuman dan ada yang Kembali pulang di kampung halamannya. Panglima perang dan pemangku adat lewo Hinga,atas nama : Nama Sabon,mangkat dan di kebumikan di daerah Pekalongan,Jawa Tengah.