ADAT & TRADISI
Warisan Leluhur yang Terus Dijaga
TRADISI TALIN
Talin adalah ekspresi solidaritas manusia terhadap sesamanya dalam bentuk memberi atau menambah bahan natura atau hewan kepada orang atau tuan pesta. Kata talin artinya "menambah", talin sinonimnya "tulun" artinya menambah. Diungkapkan dalam satu kesatuan adalah "tulun talin" yang artinya memberi bantuan atau menambah. Bahan talin dalam sebuah acara adat adalah beras, jagung titi, umbi-umbian, kacang-kacangan, kopi, gula, kue, dan terigu. Bahan lain menurut kepentingan adat berupa hewan (kambing, babi, ayam, ikan), sarung adat tenunan khas Lamaholot dan tuak.
Ungkapan talin dalam bahasa Lamaholotnya “hungen teti kotek (junjung di kepala), leba teti hanan (pikul di bahu), saga no'o tetek lali limak (jinjing dan menghela di tangan)”.
Prinsip dasar serentak menjadi spirit hidup dari adat talin lebih menekankan aspek “solidaritas” yang meringankan orang lain. Aspek meringankan, saling membantu dan saling menolong merupakan nilai esensial dari talin. Prinsip talin adalah sebuah tindakan kemanusiaan (beratadiken) yang bernilai satu untuk semua dan semua untuk satu (tou naen dihelon wahankae titen). Nilai pemberian bukan soal jumlah melainkan pemberian yang bersumber dari hati yang tulus.
Maksud dan tujuan dari tradisi talin adalah saling membantu dan meringankan agar tidak kekurangan dalam penyelenggaraan upacara adat.